Sabtu, 10 November 2012

laporan akhir praktikum mikrobiologi pertanian


LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI PERTANIAN
OLEH :
WINDY SAPUTRA
1110212041
KELOMPOK 2
KELAS C
Description: C:\Users\user\Pictures\unand clr.jpg

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2012


            Lembar Pengesahan
Laporan Akhir Praktikum
Mikrobiologi Pertanian


Sebagai Salah Satu
Syarat untuk Ujian Akhir Praktikum (UAP) Mikrobiologi Pertanian


Dosen Pembimbing :



         Ir. Winarto,MP                                                     Dr.Yulmira Yanti, Ssi. MP.


Asisten :



              a). Erna Rossi                                                            b). Aswin Fajri





KATA PENGANTAR
Puji dan syukur disampaikan ke hadirat Allah yang maha kuasa karena atas rahmat dan izin nya kami dapat menyelesaikan laporan akhir praktikum Mikrobiologi Pertanian. Shalawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita ke dunia yang penuh ilmu pengetahuan seperti saat sekarang ini.
Kami  mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam pembuatan laporan akhir praktikum ini, kepada dosen mata kuliah Mikrobiologi Pertanian, para asisten dan juga rekan-rekan yang telah membantu selama pelaksanaan praktikum berlangsung.
kami mengakui bahwa dalam pembuatan laporan praktikum ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan sehingga kami menerima kritik dan saran agar kedepanya kami dapat melakukan yang lebih baik lagi.
Laporan akhir praktikum Mikrobiologi pertanian ini disusun berdasarkan penyesuaian objek-objek yang dipraktikumkan dalam setiap praktikum secara berurutan. Penyusunan laporan akhir praktikum ini bertujuan untuk memenuhi syarat dari ujian akhir praktikum Mikrobiologi Pertanian.

                                                                                                           

                                                                                    Padang,     Maret 2012

                                                                                    Kelompok 2



DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN..............................................................             i
KATA PENGANTAR......................................................................             ii
DAFTAR ISI....................................................................................              iii
BAB I PENDAHULUAN
            1.1 Latar Belakang .................................................................            1
            1.2 Tujuan................................................................................           4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
            2.1 Bakteri..................................................................................
            2.2 Jamur...............................................................................
            2.3 Virus..................................................................................
            2.4 Nematoda..............................................................................
            2.5 Protozoa..........................................................................
            2.6 Alga........................................................................................
BAB III BAHAN DAN METODA
            3.1 Cara – Cara Membersihkan Alat – Alat Gelas....................
      3.2 Pembuatan Media Kultur Mikroorganisme...................
            3.3 Isolasi Jamur.......................................................................
            3.4 Pembiakan Murni Jamur...................................................
            3.5 Pengenalan Mikroba...........................................................
            3.6 Isolasi Bakteri................................................................
            3.7 Biakan Murni...................................................................
            3.8 Haemacytometer........................................................................
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
            4.1 Cara – Cara Membersihkan Alat – Alat Gelas....................
            4.2 Pembuatan Media Isolasi Mikroorganisme...................
            4.3 Isolasi Jamur.......................................................................
            4.4 Pembiakan Murni Jamur...................................................
            4.5 Pengenalan Mikroba...........................................................
            4.6 Isolasi Bakteri................................................................
            4.7 Biakan Murni...................................................................
            4.8 Haemacytometer........................................................................
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
            5.1 Cara – Cara Membersihkan Alat – Alat Gelas....................
            5.2 Pembuatan Media Kultur Mikroorganisme...................
            5.3 Isolasi Jamur.......................................................................
            5.4 Pembiakan Murni Jamur...................................................
            5.5 Pengenalan Mikroba...........................................................
            5.6 Isolasi Bakteri................................................................
            5.7 Biakan Murni...................................................................
            5.8 Haemacytometer........................................................................
DAFTAR PUSTAKA

I.                   PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Sejarah ilmu mikrobiologi adalah pada saat pertama kalinya diungkapkan penemuan animalcules yang ditemukannya mikroskop oleh Antony Van  Leeuwenhoek  (1632-1723) yaitu adalah sebuah alat yang memiliki kemampuan melihat benda-benda atau mekhluk hidup yang berukuran sangat kecil dan tidak bisadilihat oleh mata telanjang, dengan melakukan pengamatan tentang struktur mikroskopis biji, jaringan tumbuhan dan invertebrata kecil. Penemuan yang terbesarnya adalah saat Leeuwenhoek mengungkapkan bahwa diketahu adanyai dunia mikroba yang disebut “animalcules” atau hewan kecil (protozoa, algae, khamir, bakteri).
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang  mikroba meliputi bakteri, khamir, jamur benang, ganggang biru, protozoa, virus, mikoplasma, pleuropneumonia (PPO), yang menyerupai pleuropneumonia (pleuropneumonia Like Organism = PPLO). Mikrobiologi yang diketahui banyak orang memiliki dua arti yaitu sebagai ilmu dasar dan ilmu aplikasi. Sebagai ilmu dasar yaitu sebagai alat penelitian, mempelajari proses hidup (sel mikroba memiliki kesamaan karakter biokimia dengan multisel). Sebagai ilmu aplikasi yaitu berperanan pada bidang kedokteran, pertanian dan industri.
Mikroba / mikroorganisme / jasad renik adalah jasad hidup yang ukurannya sangat kecil, hanya dapat dilihat dengan alat pembesar atau mikroskop yaitu ukuran mikroba adalah 1 mikron atau 0,001 mm. Dalam pembelajaran mikrobiologi pertanian kita mempelajari mengenai mikroba, pengenalan bentuk dan jenis-jenisnyadan lain-lain dan juga yang paling terpenting yaitu perananya dalam bidang pertanian baik yang menguntungkan dan merugikan. Dari sanalah kita dapat mengetahui jenis mikroba apa yang bermanfaat dan dapat kita berdayakan untuk pemanfaatan dibidang pertanian dewasa ini.


1.2.Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah agar kita semua dapat mengetahui dan menjelaskan tentang ruang lingkup mikrobiologi termasuk didalamnya apa-apa saja yang dipelajari dalam praktikum ini. Mahasiswa juga diharapkan untuk dapat menjelaskan sejarah dan peranan mikroorganisme dalam kehidupansehari-hari dan yang paling utamanya dalam bidang pertanian. Praktikan juga diajarkan agar nantinya dapat menjelaskan pengelompokkan terhadap mikroorganisme yang telah kita ketahui.





















II.   TINJAUAN PUSTAKA
Bakteri
Bakteri adalah organisme bersel tunggal terkecil, beberapa di antaranya hanya memiliki diameter 0,4 mm. Sel berisi massa sitoplasma dan beberapa bahan inti (dia tidak memilki inti sel yang jelas). Sel dibungkus oleh dinding sel dan pada beberapa jenis bakteri dinding sel ini dikelilingi oleh lapisan lendir atau kapsula. Kapsula terdiri atas campuran polipeptida dan polisakarida (Repley,2005).
Bakteri merupakan sel prokariotik dan mempunyai berbagai bentuk yang sebagian m.mm dan panjang 5mbesar berbentuk batang dengan lebar kurang dari 1 DNA diselubungi oleh satu membran inti, terdapat organela mitokondria dan protoplas. Daerah inti berupa anyaman benang halus yang langsung berbatasan dengan sitoplasma berisi ribosom.Bakteri berkembang biak dengan membelah diri (Repley,2005).
Berdasarkan bentuk morfologisnya, maka bakteri tiu dapat dibagi atas ti golongan,yaitu golongan basil, golongan kokus, dan golongan spiral. Basil (bacillus) berbentuk serupa dengan tongkat pendek, silindris. Sebagian besar dari bakteri itu merupakan basil. Basil dapat bergandeng-gandengan panjang, bergandengan dua-dua, atau terlepas satu sama lain. Yang bergandeng-gandengan panjang disebut streptobasil, yang dua-dua disebut diplobasil. Ujung-ujung basil yang terlepas satu sama lain itu tumpul, sedang ujung-ujung yang masih bergandengan itu tajam. Kokus (coccus) adalah bakteri yang bentuknya serupa bola-bola kecil. Golongan ini tidak sebanyak golongan basil. Kokus ada yang bergandeng-gandengan panjang serupa tali leher, ini disebiut streptokokus, ada yang bergandengan dua-dua, ini disebut tetrakokus, kokus yang mengelompok merupakan suatu untaian disebut stafilokokus, sedang kokus yang mengelompok serupa kokus disebut sarcina. Spiril (dari spirilum) ialah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral. Bakteri yang berbentuk spiral itu tidak banyak. Golongan ini merupakan golongan yang paling kecil, jika dibandingkan dengan golongan kokus maupun golongan basil. (Waluyo,2005).

Suatu bahan makanan apabila dibiarkan pada keadaan yang memungkinkan pertumbuhan bakteri, susu mentah misalnya dengan mutu kesehatan yanag baik akan memungkinkan memberikan rasa asam yang khas. Perubahan ini disebabkan oleh Streptococcus lactis dan spesies-spesies Lactobacillus tertentu. Perubahan utama yang terjadi adalah fermentasi laktosa menjadi asam laktat. Bakteri dalam susu digolongkan berdasarkan suhu pertumbuhan dan ketahanannya terhadap panas. Pertimbangan ini amat praktis karena suhu rendah digunakan untuk mencegah atau menghambat pertumbuhan mikrobia yang merusak susu dan suhu tinggi (pasteurisasi) untuk mengurngi populasi mikrobia, memusnahkan pathogen dan secara umum memperbaiki mutu susu. Berdasarkan pada persyaratan suhu, tipe bakteri yang diujmpai dalam susu ialah psikofilik, mesofilik, termofilik, dan thermodurik karena beberapa bakteri psikofilik tertentu tumbuh pada suhu sedikit di atas suhu beku dan beberapa bakteri thermofilik tumbuh di atas suhu 65 oC (Waluyo,2005).
 Bakteri Endofit

Bakteri endofit adalah mikroba yang hidup di dalam jaringan membentuk koloni dalam jaringan tanaman tanpa membahayakan inangnya. Setiap tanaman tingkat tinggi dapat mengandung beberapa bakteri endofit yang mampu menghasilkan senyawa biologi atau metabolit sekunder yang diduga sebagai akibat koevolusi atau transfergenetik dari tanaman inangnya ke mikroba endofit (Tan & Zhou, 2001 dalam Radji, 2004).Tipe asosiasi biologis antara mikroba endofit dengan tanaman inang bervariasi dari netral, komensalisme sampai simbiosis.Pada situasi ini tanaman merupakan sumber makanan bagi mikroba endofit dalam melengkapi siklus hidupnya (Volk and Wheeler,1993).

Bakteri endofit dapat diisolasi dari permukaan jaringan tanaman yang steril atau diekstraksi dari jaringan tanaman bagian dalam.Secara khusus, bakteri masuk ke jaringan melalui jaringan yang berkecambah, akar, stomata, maupun jaringan yang rusak (Zinniel et al., 2002).Bakteri endofit maupun rizobakteri lainnya merupakan bagian dari mikroflora alamiah dari tanaman yang sehat di lapangan. Bakteri ini dapat dikatakan sebagai kontributor penting bagi kesehatan tanaman (Kloepper et al., 1999 dalam Aini & Abadi, 2004). Menurut Hallman et al., (1999) dalam Aini & Abadi (2004), telah diketahui pula bahwa bakteri endofit berperan dalam kesehatan tanaman dalam hal: (1) antagonisme langsung atau penguasaan relung atas patogen, (2) menginduksi ketahanan sistemik dan (3) meningkatkan toleransi tanaman terhadap tekanan lingkungan. Karena sifat-sifat tersebut bakteri endofit telah terbukti dapat dimanfaatkan sebagai pengendali hayati penyakit tanaman bahkan dapat mengurangi serangan hama tanaman (Volk and Wheeler,1993).
Bakteri Penambat Nitrogen

Kebutuhan bakteri terhadap unsur N dapat di pengaruhi oleh sumber N yang terdapat dalam berbagai senyawa organik maupun dari N udara. Peranan nitrogen secara biologis oleh sejumlah spesies bakteri endofit diazotrof memiliki keunggulan di bandingkan rhizosfer, karena keberadaanya di dalam jaringan interseluler tanaman yang tidak mudah hilang, sementara hara nitrogen yang berada di alam sangat bersifat labil, mudah tercuci air dan erosi, dan mudah nguap ke udara.Selain itu sejumlah bakteri endofit juga mampu menghasilkan asam indol asetat (AIA) yang merupakan fitohormon golongan auksin yang berperan dalam memperpanjang sel dan organ (Suriawirnia,1995).
Beragam jenis bakteri bertanggung jawab pada penambatan N hayati, mulai dari Sianobakter dan bakteri fotosintetik pada air tergenang dan permukaan tanah sampai pada bakteri heterotrofik dalam tanah dan zona akar (Suriawirnia,1995).
Bakteri mampu melakukan penambatan nitrogen udara maupun simbiosis. Secara umum, fiksasi nitrogen biologis sebagai bagian dari input nitrogen untuk mendukung pertumbuhan tanaman telah menurun akibat intensifikasi pemupukan anorganik (Hindersah dan Simarmata, 2004).Unsur nitrogen termasuk unsur utama dan merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan, sehingga merupakan kunci keberhasilan pertumbuhan tanaman (Suriawirnia,2005).
Bakteri penambat N di daerah perakaran dan bagian jaringan tanaman padi, yaitu Pseudomonas spp., Enterobacteriaceae, Bacillus, Azotobacter, Azospirillum dan Herbaspirillum telah terbukti secara nyata menambat N. Bakteri penambat N pada rizosfer tanaman gramineae, seperti Azotobacterpaspali dan Beijirinckia spp. merupakan kelompok bakteri aerobik yang mengkolonisasi permukaan akar .Azotobacter merupakan bakteri penambatan yang mampu menghasilkan substansi zat pemacu tumbuh giberelin, sitokinin dan asam indol asetat, sehingga pemanfaatannya dapat memacu pertumbuhan akar (Suriawirnia,2005).
Populasi Azotobacter dalam tanah dipengaruhi oleh pemupukan dan jenis tanaman. Kelompok prokariot fotosintetik terbesar dan menyebar secara luas yaitu Sianobacter (Albecrt, 1998) kemampuannya menambat N2 mempunyai implikasi untuk meningkatkan kesuburan ekosistem tanah.Pertumbuhan Sianobaktermeningkatkan pertumbuhan agregat sehingga mempengaruhi filtrasi, aerasi dan suhu tanah. Keberadaan Sianobakterterhadap kebutuhan N tanaman ditentukan oleh besarnya biomasa, masa antar dua musim tanaman, laju penambatan N, dan besarnya N tanah yang tersedia bagi tanaman.Potensi N yang disumbangkan oleh bakteri penambat nitrogen yang hidup bebas tidak terlalu tinggi, karena nitrogen yang berhasil ditambat berada diluar jaringan tanaman, sehingga sebagian hilang sebelum di serap oleh tanaman (Suriawirnia,2005).
2.3 Biofertilizer

Biofertilizer didefinisikan sebagai produk yang mengandung mikroba hidup atau sel mikroba yang tersembunyi yang mengaktifkan proses biologis untuk membuat pupuk atau membentuk unsur yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman. Aktifitas mikroba ini mempengaruhi ekosistem tanah dan menghasilkan zat tambahan buat tanaman. Kemampuan tanah untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman merupakan masalah yang sering dialami pertanaman kelapa sawit, termasuk pada pertanaman yang belum di hasilkan. Keterbatasan seperti ini akan menjadi faktor pembatas terhadap ketersediaan unsur hara yang dapat di manfaatkan oleh tanaman seperti nitrogen. Keterbatasan oleh tanaman dapat menyebabkan sistem pemupukan yang dilakukan tidak efektif (Lay,1992).
Bagaimanapun, spesies dan kuantitas unsur hara tanaman bervariasi tergantung pada sumber daya dan bahan-bahan mentah yang digunakan untuk memproduksi pupuk. Mikroba tersebut dan sumber nutrien diperoleh dari bahan baku yang digunakan untuk meningkatkan kesehatan dan unsur hara tanah. Ada macam-macam jenis biofertilizer yang tersedia tergantung bahan baku yang digunakan, bentuk-bentuk pemanfaatan dan sumber mikroba (Lay,1992).
Dalam lingkup terminologi ini, biofertilizer meliputi perumusan mikroba pengikat nitrogen, mikroba pelarut fosfat dan mikroba selulolitik (Lay,1992).














Jamur
Secara morfologis jamur dapat ditentukan dengan melihat bentuk srukturnya menggunakan mikroskop, dengan demikian identifikasi dan klsifikasi dapat ditentukan, secara fisual jamur dilihat seperti kapas atau benang berwarna, atau tidak berwarna, yang disebabkan karena adanya miselia dan spora. Miselia terbentuk dengan adanya hifa, baik yang bersepta atau yang tidak bersepta. Jamur terbagi menjadi beberapa familia antara lain Moniliaceae (Aspergillus, Phenicillium, Trichothecium, Geotrichum, Monilia, Sporatrichum, Botrytis, Cephalosporium, Trichoderma, Schopulariopsis), Dematiaceae (Cladosporium, Helminthosporium, Alternaria, Stemphylium) dan Tuberculariaceaea (Fusarium) (Kusnadi,2003).
Sifat kultural dari jamur dapat dilihat dengan kenampakan pertumbuhannya pada makanan. Pada permukaan bahan makanan tampak kering, membentuk massa serbuk, kadang-kadang halus dan lunak atau kelihatan basah dan berair. Warna miselia hijau biru, biru kehijauan, kuning, orange, merah muda, coklat, abu-abu, dan hitam (Kusnasi,2003).
Adapun jamur yang penting dalam pembicaraan mikrobiologi adalah klas Phicomycetes, klas Ascomycetes dan klas Deuteromycetes. Perbedaan yang penting dari klas Phicomycetes dan klas Ascomycetes adalah bahwa miselium Phicomycetes itu serupa tabung panjang yang tidak terbagi-bagi, sedang miselium Ascomycetes serupa tabung panjang yang bersekat-sekat. Miselium dapat bercabang-cabang, satu helai cabang disebut hifa. (Kusnadi,2003).
Klasifikasi cendawan terutama didasarkan pada ciri-ciri spora seksual dan tubuh buah yang ada selama tahap-tahap seksual. Cendawan mampu memanfaatkan berbagai macam bahan untuk gizinya, sekalipun demikian mereka itu heterotrof. Berbeda dengan bakteri, mereka tidak dapat menggunakan senyawa karbon anorganik, seperti misalnya karbondioksida. Karbon berasal dari sumber organik, misalnya glukosa. Beberapa spesies dapat menggunakan nitrogen, itulah sebabnya mengapa medium biakan untuk cendawan biasanya berisiskan pepton, suatu produk protein yang terhidrolisis (Kusnadi,2003).
Septa atau dinding pemisah .jamur tak bersepta adalah jamur yamg tidak memiliki dinding inti pemisah atau septa. Hifanya merupakan tabung memanjang berisi inti yang banyak dan terdispersi ke seluruh sitoplasma, oleh karenanya diberi nama multiseluler. Jamur bersepta, jamur ini memiliki septa yang membagi hifa menjadi sel yang terpisah, masing-masing berisi sel inti (Hadioetomo,1993).
Jamur Rhizopus oryzae merupakan jamur yang sering digunakan dalam pembuatan tempe. Jamur Rhizopus oryzae aman dikonsumsi karena tidak menghasilkan toksin dan mampu menghasilkan asam laktat. Jamur Rhizopus oryzae mempunyai kemampuan mengurai lemak kompleks menjadi trigliserida dan asam amino. Selain itu jamur Rhizopus oryzae mampu menghasilkan protease. Jamur Rhizopos ini biasanya tumbuh pada tempe atau oncom sebagai parasit, bentuknya berwarna putih, tidak mempunyai sekat-sekat, jika tua akan berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan (Hadioetomo,1993).

Jamur (fungi) banyak kita temukan di lingkungan sekitar kita. Jamur tumbuh subur terutama di musim hujan karena jamur menyukai habitat yang lembab. Akan tetapi, jamur juga dapat ditemukan hampir di semua tempat di mana ada materi organik. Jika lingkungan di sekitarnya mengering, jamur akan menjalani tahapan istirahat atau meghasilkan spora. Cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang jamur disebut mikologi. Kebanyakkan jamur termasuk dalam kelompok kapang. Tubuh vegetatif kapang berbentuk filamen panjang bercabang yang seperti benang, yang disebut hifa. Hifa akan memanjang dan menyerap makanan dari permukaan substrat (tempat hidup jamur). Hifa-hifa membentuk jaring-jaring benang kusut, disebut miselium. (Hadioetomo,1993). 

2.1 Deskripsi Jamur
Istilah jamur berasal dari bahasa Yunani, yaitu fungus (mushroom) yang berarti tumbuh dengan subur. Istilah ini selanjutnya ditujukan kepada jamur yang memiliki tubuh buah serta tumbuh atau muncul di atas tanah atau pepohonan (Hadioetomo,1993).

Organisme yang disebut jamur bersifat heterotrof, dinding sel spora mengandung kitin, tidak berplastid, tidak berfotosintesis, tidak bersifat fagotrof, umumnya memiliki hifa yang berdinding yang dapat berinti banyak (multinukleat), atau berinti tunggal (mononukleat), dan memperoleh nutrien dengan cara absorpsi (Kusnadi,2003).

Jamur mempunyai dua karakter yang sangat mirip dengan tumbuhan yaitu dinding sel yang sedikit keras dan organ reproduksi yang disebut spora. Dinding sel jamur terdiri atas selulosa dan kitin sebagai komponen yang dominan. Kitin adalah polimer dari gugus amino yang lebih memiliki karakteristik seperti tubuh serangga daripada tubuh tumbuhan. Spora jamur terutama spora yang diproduksi secara seksual berbeda dari spora tumbuhan tinggi secara penampakan (bentuk) dan metode produksinya (Kusnadi,2003).

Banyak jamur yang sudah dikenal peranannya, yaitu jamur yang tumbuh di roti, buah, keju, ragi dalam pembuatan bir, dan yang merusak tekstil yang lembab, serta beberapa jenis cendawan yang dibudidayakan. Beberapa jenis memproduksi antibiotik yang digunakan dalam terapi melawan berbagai infeksi bakteri (Hadioetomo,1993).

Diantara semua organisme, jamur adalah organisme yang paling banyak menghasilkan enzim yang bersifat degradatif yang menyerang secara langsung seluruh material oganik. Adanya enzim yang bersifat degradatif ini menjadikan jamur bagian yang sangat penting dalam mendaur ulang sampah-sampah alam, dan sebagai dekomposer dalam siklus biogeokimia (Hadioetomo,1993).

Semua unsur kimia di alam akan beredar melalui jalur tertentu dari lingkungan ke organisme atau makhluk hidup dan kembali lagi ke lingkungan. Semua bahan kimia dapat beredar berulang-ulang melewati ekosistem secara tak terbatas. Jika suatu organisme itu mati, maka bahan organik yang terdapat pada tubuh organisme tersebut akan dirombak menjadi komponen abiotik dan dikembalikan lagi ke dalam lingkungan. Peredaran bahan abiotik dari lingkungan melalui komponen biotik dan kembali lagi ke lingkungan dikenal sebagai siklus biogeokimia (Kusnadi,2003).

Tubuh buah suatu jenis jamur dapat berbeda dengan jenis jamur lainnya yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan tudung (pileus), tangkai (stipe), dan lamella (gills) serta cawan (volva). Adanya perbedaan ukuran, warna, serta bentuk dari pileus dan stipe merupakan ciri penting dalam melakukan identifikasi suatu jenis jamur (Kusnadi,2003).

Menurut Kusnadi (2003), beberapa karakteristik umum dari jamur yaitu: jamur merupakan organisme yang tidak memiliki klorofil sehingga cara hidupnya sebagai parasit atau saprofit. Tubuh terdiri dari benang yang bercabang-cabang disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium, berkembang biak secara aseksual dan seksual.

Secara alamiah jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu dengan fragmentasi miselium, pembelahan (fission) dari sel-sel somatik menjadi sel-sel anakan. Tunas (budding) dari sel-sel somatik atau spora, tiap tunas membentuk individu baru, pembentukan spora aseksual, tiap spora akan berkecambah membentuk hifa yang selanjutnya berkembang menjadi miselium (Kusnadi,2003).

Reproduksi secara seksual melibatkan peleburan dua inti sel yang kompatibel. Proses reproduksi secara seksual terdiri dari tiga fase yaitu plasmogami, kariogami dan meiosis. Plasmogami merupakan proses penyatuan antara dua protoplasma yang segera diikuti oleh proses kariogami (persatuan antara dua inti). Fase meiosis menempati fase terakhir sebelum terbentuk spora. Pada fase tersebut dihasilkan masing-masing sel dengan kromosom yang bersifat haploid (Kusnadi,2003).


2.2 Klasifikasi Jamur

Mc-Kane (1996) mengatakan setiap jamur tercakup di dalam salah satu dari kategori taksonomi, dibedakan atas dasar tipe spora, morfologi hifa dan siklus seksualnya. Kelompok-kelompok ini adalah : Oomycetes, Zygomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes. Terkecuali untuk deuteromycetes, semua jamur menghasilkan spora seksual yang spesifik. (Kusnadi,2003).

















Virus
Ilmu tentang Virus disebut Virologi. Virus (bahasa latin) = racun. Hampir semua virus dapat menimbulkan penyakit pada organisme lain. Saat ini virus adalah mahluk yang berukuran paling kecil. Virus hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron dan lolos dari saringan bakteri (bakteri filter). (Carter,2007)
SEJARAH PENEMUAN
D. Iwanowsky (1892) dan M. Beyerinck (1899) adalah ilmuwan yang menemukan virus, sewaktu keduanya meneliti penyakit mozaik daun tembakau. Kemudian W.M. Stanley (1935) seorang ilmuwan Amerika berhasil mengkristalkan virus penyebab penyakit mozaik daun tembakau (virus TVM). (Carter,2007).
STRUKTUR TUBUH
Tubuhnya masih belum dapat disebut sebagai sel, hanya tersusun dari selubung protein di bagian luar dan asam nukleat (ARN & ADN) di bagian dalamnya. Berdasarkan asam nukleat yang terdapat pada virus, kita mengenal virus ADN dan virus ARN. Virus hanya dapat berkembang biak (bereplikasi) pada medium yang hidup (embrio, jaringan hewan, jaringan tumbuhan). Bahan-bahan yang diperlukan untuk membentuk bagian tubuh virus baru, berasal dari sitoplasma sel yang diinfeksi. (Carter,2007).
BERBAGAI VIRUS YANG MERUGIKAN
1. Pada Bakteri :
1.1. Bakteriofage.
2. Pada Tumbuhan :
2.1. Virus TMV (Tabacco Mozaik Virus) penyebab mozaik pada daun tembakau.
2.2. Virus Tungro: penyebab penyakit kerdil pada padi. Penularan virus ini dengan perantara wereng coklat dan wereng hijau
2.3. Virus CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) menyerang tanaman
jeruk (Cheville,1994)
3. Pada Hewan :
3.1. Virus NCD (New Castle Disease) penyebab penyakit tetelo pada
ayam dan itik. (Cheville,1994).
4. Pada Manusia :
4.1. Virus Hepatitis, penyebab hepatitis (radang hati), yang paling
berbahaya adalah virus Hepatitis B.
4.2. Virus Rabies >> penyebab rabies
4.3. Virus Polio >> penyebab polio
4.4. Virus Variola dan Varicella >> penyebab cacar api dan cacar air
4.5. Virus Influenza >> penyebab influenza
4.6. Virus Dengue >> penyebab demam berdarah
4.7. Virus HIV >> penyebab AIDS (Cheville,1994).
Cara pencegahan penyakit karena virus dilakukan dengan tindakan vaksinasi. Vaksin pertama yang ditemukan oleh manusia adalah vaksin cacar, ditemukan oleh Edward Jenner (1789), sedangkan vaksinasi oral ditemukan oleh Jonas Salk (1952) dalam menanggulangi penyebab polio. Manusia secara alamiah dapat membuat zat anti virus di dalam tubuhnya, yang disebut Interferon, meskipun demikian manusia masih dapat sakit karena infeksi virus, karena kecepatan replikasi virus tidak dapat diimbangi oleh kecepatan sintesis interferon. (Nermut,1987).
Virus adalah berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas proteinlipidglikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genomvirus akan diekspresikan menjadi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya. (Nermut,1987).

Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara istilah bakteriofage atau fagedigunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel). (Carter,2007)

Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya secara bebas jika tidak berada dalam sel inang. Karena karakteristik khasnya ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya virus influenzadan HIV), hewan (misalnya virus flu burung), atau tanaman (misalnya virus mosaik tembakau/TMV). (Carter,2007).
Virus adalah organisme subselular yang karena ukurannya sangat kecil, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron. Ukurannya lebih kecil daripada bakteri sehingga virus tidak dapat disaring dengan penyaring bakteri. Virus terkecil berdiameter hanya 20 nm (lebih kecil daripada ribosom), sedangkan virus terbesar sekalipun sukar dilihat dengan mikroskop cahaya. (Cheville,1994).

Genom virus dapat berupa DNA ataupun RNA.[10] Genom virus dapat terdiri dari DNA untai ganda, DNA untai tunggal, RNA untai ganda, atau RNA untai tunggal.[10] Selain itu, asam nukleat genom virus dapat berbentuk linear tunggal atau sirkuler.[10] Jumlah gen virus bervariasi dari empat untuk yang terkecil sampai dengan beberapa ratus untuk yang terbesar.[10][9] Bahan genetik kebanyakan virus hewan dan manusia berupa DNA, dan pada virus tumbuhan kebanyakan adalah RNA yang beruntai tunggal. (Cheville,1994).
Bahan genetik virus diselubungi oleh suatu lapisan pelindung.[10] Protein yang menjadi lapisan pelindung tersebut disebut kapsid.[10]Bergantung pada tipe virusnya, kapsid bisa berbentuk bulat (sferik), heliks, polihedral, atau bentuk yang lebih kompleks dan terdiri atas protein yang disandikan oleh genom virus.[10] Kapsid terbentuk dari banyak subunit protein yang disebut kapsomer. (Cheville,1994).
Untuk virus berbentuk heliks, protein kapsid (biasanya disebut protein nukleokapsid) terikat langsung dengan genom virus.[11] Misalnya, pada virus campak, setiap protein nukleokapsid terhubung dengan enam basa RNA membentuk heliks sepanjang sekitar 1,3 mikrometer.[11] Komposisi kompleks protein dan asam nukleat ini disebut nukleokapsid.[11] Pada virus campak, nukleokapsid ini diselubungi oleh lapisan lipid yang didapatkan dari sel inang, dan glikoprotein yang disandikan oleh virus melekat pada selubung lipid tersebut.[11] Bagian-bagian ini berfungsi dalam pengikatan pada dan pemasukan ke sel inang pada awal infeksi. (Nermut,1987).
Kapsid virus sferik menyelubungi genom virus secara keseluruhan dan tidak terlalu berikatan dengan asam nukleat seperti virus heliks.[12] Struktur ini bisa bervariasi dari ukuran 20 nanometer hingga 400 nanometer dan terdiri atas protein virus yang tersusun dalam bentuk simetri ikosahedral.[12] Jumlah protein yang dibutuhkan untuk membentuk kapsid virus sferik ditentukan dengan koefisien T, yaitu sekitar 60t protein.[12] Sebagai contoh, virus hepatitis B memiliki angka T=4, butuh 240 protein untuk membentuk kapsid.[12] Seperti virus bentuk heliks, kapsid sebagian jenis virus sferik dapat diselubungi lapisan lipid, namun biasanya protein kapsid sendiri langsung terlibat dalam penginfeksian sel. (Nermut,1987).
Beberapa jenis virus memiliki unsur tambahan yang membantunya menginfeksi inang.Virus pada hewan memiliki selubung virus, yaitu membran menyelubungi kapsid.[13] Selubung ini mengandung fosfolipid dan protein dari sel inang, tetapi juga mengandung protein dan glikoprotein yang berasal dari virus.[13] Selain protein selubung dan protein kapsid, virus juga membawa beberapa molekul enzim di dalam kapsidnya. Ada pula beberapa jenis bakteriofag yang memiliki ekor protein yang melekat pada "kepala" kapsid. Serabut-serabut ekor tersebut digunakan oleh fag untuk menempel pada suatu bakteri.[14] Partikel lengkap virus disebut virion. Virion berfungsi sebagai alat transportasi gen, sedangkan komponen selubung dan kapsid bertanggung jawab dalam mekanisme penginfeksian sel inang. (Nermut,1987).













Nematode
Nematoda berasal dari bahasa Yunani, Nema artinya benang. Nematoda adalah cacing yang bentuknya panjang, silindrik, tidak bersegmen dan tubuhnya bilateral simetrik, panjang cacing ini mulai dari 2 mm sampai 1 m. Nematoda yang ditemukan pada manusia terdapat dalam organ usus, jaringan dan sistem peredaran darah, keberadaan cacing ini menimbulkan manifestasi klinik yang berbeda-beda tergantung pada spesiesnya dan organ yang dihinggapi. Menurut tempat hidupnya Nematoda pada manusia digolongkan menjadi dua yaitu Nematoda Usus dan Nematoda Jaringan/Darah. Spesies Nematoda Usus banyak, tetapi yang ditularkan melalui tanah ada tiga yaitu: Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang (Onggowaluyo, 2001).

Cara penularan (transmisi) Nematoda dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung. Mekanisme penularan berkaitan erat dengan hygiene dan sanitasi lingkungan yang buruk. Penularan dapat terjadi dengan: menelan telur infektif (telur berisi embrio), larva (filariorm) menembus kulit, memakan larva dalam kista, dan perantaraan hewan vektor. Dewasa ini cara penularan Nematoda yang paling banyak adalah melalui aspek Soil Trasmitted Helminth yaitu penularan melalui media tanah (Onggowaluyo, 2001).

2.2 Penyebab Cacingan
Di Indonesia masih banyak anggota masyarakat yang terjangkit penyakit cacingan, hal ini disebabkan karena kebersihan personal yang sangat kurang, serta sanitasi lingkungan yang masih buruk. Pengalaman membuktikan bahwa masyarakat yang sedang berkembang sangat sulit untuk mengembangkan sanitasi lingkungan yang baik terutama di dalam masyarakat yang mempunyai keadaan sosial-ekonomi rendah, dengan keadaan seperti: rumah-rumah berhimpitan di daerah kumuh (slum area) di kota-kota besar yang mempunyai sanitasi lingkungan buruk, khususnya tempat anak-anak balita tumbuh. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian (Ayu, 2002). di mana ditemukan 83,8% prevalensi infeksi cacing pada pemulung anak.`Di daerah pedesaan anak berdefekasi dekat rumah dan orang dewasa berdefekasi di pinggir kali, di ladang dan perkebunan tempat bekerja. (Ayu,2002).

Menurut Harian Sriwijaya Post (10 Januari 2003) penduduk Palembang yang berdomisili di daerah pinggiran kali terancam terinfeksi cacingan, di mana di tepian kali tersebut masih banyak terdapat jamban .helikopter. yaitu jamban yang terbuat dari kayu, bertiang dan terletak di tepi kali, posisi jamban ini menjorok ke sungai di mana kotoran yang dibuang melalui jamban ini akan hanyut dan ketika air surut otomatis tinja tertinggal dan merupakan sumber penularan cacingan. Penggunaan tinja yang mengandung telur untuk pupuk di kebun sayuran juga merupakan sumber penularan telur cacing. Hasil penelitian Tjitra (2005) terdapat telur cacing Ascaris lumbricoides (6,16%) dan telur cacing tambang (36%) pada jenis sayuran terutama kol dan selada, dan juga terdapat telur Nematoda usus 36,8% pada air dan lumpur yang digunakan untuk menyiram dan menanam sayuran di Bandung. Pengolahan tanah pertanian/perkebunan dan pertambangan yang memakai tangan dan kaki telanjang atau tidak ada pelindung juga merupakan sumber penularan. Data hasil penelitian (Onggowaluyo,2001) mengemukakan bahwa 80% infeksi kecacingan terjadi karena kontak dengan tanah melalui kuku yang kotor, makan menggunakan tangan dan sering lupa mencuci tangan sebelum makan yang semuanya merupakan potensi tertelannya telur cacing (yang akan menetas di dalam tubuh manusia). (Onggowaluyo,2001)

2.3 Gejala Cacingan

Kebanyakan penderita cacingan tidak sadar kalau sedang mengidap penyakit cacingan. Mereka tidak tahu kalau di perutnya ada cacing. Gejala cacingan muncul jika hospes yang ditumpangi Nematoda Usus sudah kekurangan gizi karena sebagian makanan dimakan Nematoda Usus. Semakin banyak Nematoda Usus semakin banyak makanan yang diambil (Onggowaluyo,2001).

Gejala kurang gizi dapat beragam yaitu: berat badan turun, wajah pucat, kulit dan rambut kering, keadaan tubuh lemah, lesu, dan mudah sakit, mungkin selera makan kurang, kulit telapak tangan tidak merah, mudah lelah, kurang darah dan mungkin jantung berdebar-debar, sesak nafas dan sering pening. Gejala kurang gizi sendiri sering diabaikan dan gejala tersebut tidak mendorong penderita untuk berobat. Penderita tidak merasa ada keluhan untuk berobat, akibatnya banyak penderita cacingan yang sudah lama mengidap cacingan yang menahun (Ayu,2002).

2.4 Jenis Nematoda Usus yang Ditularkan Melalui Tanah (Soil Trasmitted
Helminth)

Soil Trasmitted Helminth adalah cacing golongan Nematoda yang memerlukan tanah untuk perkembangannya. Di Indonesia golongan cacing ini yang penting menyebabkan masalah kesehatan masyarakat adalah: Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang (Ayu,2002).

2.4.1 Ascaris lumbricoides (Cacing gelang)
a. Hospes dan Nama Penyakit
Satu-satunya hospes definitive Nematoda ini adalah manusia. Penyakit yang disebabkan Nematoda ini disebut Ascariasis.

b. Distribusi Geografis
Karena parasit ini terdapat di seluruh dunia, maka bersifat kosmopolitan. Penyebaran parasit ini terutama berada di daerah tropis yang tingkat kelembabannya cukup tinggi (Ayu,2002).

c. Morfologi dan Daur Hidup
Cacing betina panjangnya sampai 20 sampai 35 cm, sedangkan yang jantan panjangnya 15 sampai 31 cm. Pada cacing jantan ujung posteriornya lancip dan melengkung ke arah ventral dilengkapi pepil kecil dan dua buah speculum berukuran 2 mm, sedangkan pada cacing betina bagian posteriornya membulat dan lurus, dan 1/3 anteriornya tubuhnya terdapat cincin kopulasi, tubuhnya berwarna putih sampai kuning kecoklatan dan diselubungi oleh lapisan kutikula yang bergaris halus. Telur yang dibuahi besarnya 60 x 45 mikron, telur yang tidak dibuahi besarnya 90 x 45 mikron, telur matang berisi larva (embrio), menjadi infektif setelah berada di tanah kurang lebih 3 minggu (Ayu,2002).

Telur yang infektif bila tertelan manusia menetas menjadi larva di usus halus. Larva menembus di dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe kemudian terbawa oleh darah sampai ke jantung menuju paru-paru. Larva di paru-paru menembus dinding alveolus masuk ke rongga alveolus dan naik ke trakea, dari trakea larva menuju faring dan menimbulkan iritasi yang menyebabkan penderita akan batuk karena adanya rangsangan dari larva ini. Larva di faring tertelan dan terbawa ke esofagus, terakhir sampai di usus halus dan menjadi dewasa. Proses mulai dari telur sampai menjadi cacing dewasa membutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan (Onggowaluyo, 2001).

d. Aspek Klinis
Cairan tubuh cacing dewasa dapat menimbulkan reaksi toksik sehingga terjadi gejala mirip demam tifoid yang disertai alergi seperti urtikaria, udema di wajah, konjungtivitas, dan iritasi pada alat pernafasan bagian atas. Apabila jumlahnya banyak cacing dewasa dalam usus dapat menimbulkan gangguan gizi, kadang-kadang cacing dewasa juga bermigrasi karena adanya rangsangan, efek dari migrasi ini dapat menimbulkan obstruksi usus, kemudian masuk ke dalam saluran empedu, saluran pankreas dan organ-organ lainnya. Migrasi sering juga menyebabkan cacing dewasa keluar spontan melalui anus, mulut dan hidung (Onggowaluyo, 2001).

Menurut Onggowaluyo (2001) setiap ekor cacing gelang yang ada di tubuh manusia menghisap 0,04 gram karbohidrat setiap harinya dan bila jumlah cacing ini terlalu banyak maka dapat menyumbat usus dan saluran empedu.



e.diagnosis
Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan telur dan cacing dewasa dalam tinja. Telur cacing ini dapat ditemukan dengan mudah pada sediaan basah langsung atau sediaan basah dari sedimen yang sudah dikonsentrasikan. Cacin dewasa dapat ditemukan dengan pemberian antelmintik atau keluar dengan sendirinya melalui mulut karena muntah atau melalui anus bersama tinja (Ayu,2002).

f. Pencegahan
Karena penularan Ascariasis terutama tergantung dari kontaminasi tanah dengan tinja, penggunaan sanitasi yang baik merupakan tindakan pencegahan yang terpenting. Belum ada cara yang praktis untuk membunuh telur cacing yang terdapat di tanah liat dan lingkungan yang sesuai (Ayu,2002).

2.4.2 Trichuris trichiura

a. Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitive cacing ini adalah manusia dan penyakit yang disebabkannya disebut Trikuriasis.

b. Distribusi Geografis
Cacing ini tersebar luas di daerah beriklim tropis yang lembab dan panas, namun dapat juga ditemukan di seluruh dunia (kosmopolit), termasuk di Indonesia (Hart, 1997).

c. Morfologi dan Daur Hidup
Cacing dewasa betina panjangnya 35 sampai 50 mm, sedangkan cacing dewasa jantan penjangnya 30 sampai 45 mm. Telurnya berukuran 50 sampai 54 x 32 mikron. Bentuknya seperti tempayan (tong) dan kedua ujungnya dilengkapi dengan tutup (operkulum) dari bahan mucus yang jernih. Kulit luar telur berwarna kuning tengguli dan bagian dalam jernih. Telur yang sudah dibuahi dalam waktu 3 sampai 6 minggu akan menjadi matang, manusia akan terinfeksi cacing ini apabila menelan telur matang, di dalam usus halus telur ini akan menjadi dewasa dan berkumpul di kolon terutama di daerah seklum. Proses dari telur sampai menjadi cacing dewasa memerlukan waktu kurang lebih 1 sampai 3 bulan (Onggowaluyo,2001).

d. Aspek Klinis
Infeksi berat terjadi terutama pada anak-anak, cacing ini tersebar di seluruh kolon dan rektum, cacing ini menyebabkan pendarahan di tempat perlekatannya dan dapat menimbulkan anemia. Pada anak-anak infeksi terjadi menahun dan berat (hiperinfeksi), gejala-gejala yang terjadi adalah diare yang disertai sindrom, anemia, prolapsus rektal dan berat badan menurun (Onggowaluyo, 2001). Anemia ini terjadi karena penderita mengalami malnutrisi dan kehilangan darah akibat cacing menghisap darah dan kolon yang rapuh.

e. Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja atau menemukan cacing dewasa pada penderita prolapsusrekti (pada anak).

f. Pencegahan
Infeksi yang disebabkan oleh Trichuris trichiura dapat dicegah dengan pengobatan, pembuatan jamban yang sehat dan penyuluhan tentang hygiene dan sanitasi kepada masyarakat (Onggowaluyo, 2001).

2.4.3 Cacing Tambang (Hookworm)
Terdapat dua spesies yaitu: Necator americanus (new world Hookworm) dan Ancylostoma duodenale (old world Hookworm).

a. Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitive kedua cacing ini adalah manusia. Tempat hidupnya dalam usus halus, terutama jejunum dan duodenum. Penyakit yang disebabkan disebut Nekatoriasis dan Ankilostomiasis.


b. distribusi geografis
Kedua parasit ini tersebar di seluruh dunia (kosmopolit), penyebaran yang paling banyak di daerah tropis dan sub tropis. Lingkungan yang paling cocok adalah habitat dengan suhu kelembaban yang tinggi, terutama daerah perkebunan dan pertambangan (Onggowaluyo, 2001).

c. Morfologi dan Daur Hidup
Ukuran cacing betina 9 . 13 mm dan cacing jantan 5 . 19 mm. Bentuk Necator americanus seperti huruf S, mulut dilengkapi gigi kittin, dengan waktu 1 . 15 hari telur telah menetas dan mengeluarkan larva rabditiform yang panjangnya kurang lebih 250 mikron. Selanjutnya dalam waktu kirakira 3 hari, satu larva rabditiform berkembang menjadi larva filariform (bentuk infektif) yang panjangnya kira-kira 500 mikron. Infeksi pada manusia terjadi apabila larva filariform menembus kulit atau tertelan (Ayu,2002).

Daur hidup kedua cacing tambang ini dimulai dari larva filariform menembus kulit manusia kemudian masuk ke kapiler darah dan berturut - turut menuju jantung kanan, paru-paru, bronkus, trakea, laring dan terakhir dalam usus halus sampai menjadi dewasa (Ayu,2002).

d. Aspek Klinis
Gejala permulaan yang timbul setelah larva menembus kulit adalah timbulnya rasa gatal-gatal biasa. Apabila larva menembus kulit dalam jumlah yang banyak, rasa gatal-gatal semakin hebat dan kemungkinan terjadi infeksi sekunder. Apabila larva mengadakan migrasi ke paru maka dapat menyebabkan pneumonitis yang tingkat gejalanya tergantung pada jumlah larva (Ayu,2002).

e. Pencegahan
Ayu (2002) mengemukakan hal-hal yang perlu dibiasakan agar terhindar dari penyakit cacingan adalah sebagai berikut: membiasakan buang air besar di WC atau kakus dan menjaga WC atau kakus tetap bersih, membiasakan mencuci tangan dengan air memakai sabun setelah buang air besar, setelah bekerja dan sebelum makan. Data hasil penelitian (Ayu, 2002) mengemukakan bahwa 80% infeksi kecacingan terjadi karena kontak dengan tanah melalui kuku yang kotor, makan menggunakan tangan tanpa menggunakan sendok dan sering lupa mencuci tangan sebelum makan yang semuanya merupakan potensi tertelannya telur cacing (yang akan menetas di dalam tubuh manusia), pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencuci makanan, buah dan sayuran yang akan dimakan dengan memakai air bersih, memakan daging yang dimasak dengan matang, memakai sepatu atau sandal, minum air yang bersih, memberi pengobatan dengan obat antelmintik yang efektif, terutama golongan rawan, memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai sanitasi lingkungan yang baik dan cara menghindari infeksi cacing-cacing ini (Ayu,2002).




















Protozoa
Protozoa adalah hewan-hewan bersel tunggal. Hewan-hewan itu mempunyai struktur yang lebih mejemuk dari sel tunggal hewan multiseluler dan walaupun hanya terdiri dari satu sel, namun protoza merupakan organisme sempurna. Karena sifat struktur yang demikian itu, maka berbagai ahli dalam zoology menamakan protozoa itu aseluler tetapi keseluruhan organisme dibungkus oleh satu plasma membran (Brotowijoyo, 1986. hal: 60).
Protozoa adalah mikroorganisme menyerupai hewan yang merupakan salah satu phylum dari kingdom protista. Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh sel itu sendiri dalam menggunakan organel-organel antara lain membran plasma, sitoplasma, dan mitokondria (http://e-dukasi.net).
Protozoa adalah mikroorganisme menyerupai hewan yang merupakan salah satu filum dari kingdom protista. Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh sel itu sendiri dengan menggunakan organel-organel antara lain Membrane plasma,Sitoplasma,Mitikondria. Protozoa berasal dari kata protos berarti pertama dan zoa = zoo berarti hewan, jadi protozoa adalah binatang yang pertama kali ada (Soemiadji, 1986 hal: 32).
Diantara jenisnya ada yang hidup bebas di alam dan ada pula yang hidup sebagai parasit pada hewan atau manusia. Jenis yang hidup bebas banyak terdapat di tempat yang becek, genangan air dan kolam, tidak terbatas di air tawar tetapi juga di air asin (Soemiadji, 1986hal:32).
Filum protozoa merupakan hewan yang tubuhnya terdiri atas satu sel. Nama protozoa berasal dari bahasa latin yang berarti “hewan yang pertama” (proto = awal, zoon = hewan ). Hewan filum ini hidup di daerah yang lembab atau berair, misal : di air tawar, air laut, air payau, dan tanah, bahkan di dalam tubuh orgnisme lain. Protozoa ada yang hidup bebas, komensal maupun parasit pada hewan lain. Hewan ini ada yang secara individu (soliter) dan ada pula yang membentuk koloni (Soemiadji,1986 hal: 20).
Sampai sekarang hewan-hewan yang termasuk dalam organisasi tingkat protoplasma ini, tergabung dalam Philum : Protozoa (protos = pertama, awal : zoon = hewan). Sering juga disebut bahwa protozoa ini adalah hewan unicellular, sedang parazoa atau Metazoa adalah multicelluler . hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa tubuh satu organisme protozoa dapat disamakan dengan 1 cel parazoa atau metazoa. (Brotowijoyo,1986).
Paramecium caudatum adalah kelompok protozoa yang sering dijumpai di periran air tawar, misalnya sawah, kolam dan air yang mengenang. Bentuknya menyerupai sandal, bagian anterior tumpul dan yang posterior meruncing. Permukaan tubuhnya agak lentur namun bentuk tubuhnya sudah tetap dan bagian ini disebut pellicle. Seluruh permukaan tubuhnya ditumbuhi rambut getar yang disebut cillia, berfungsi sebagai alat gerak. Didaerah pertengahan tubuhnya terdapat bentuk lekukan yang ujungnya diakhiri degan bentuk kantung, ini disebut gulet. Bentuk kantung bila terlepas dari gulet akan menjadi vakuola makanan. Sitoplasma dibedakan menjadi dua yaitu bagian luar adalah ektoplasma dan bagian dalam disebut endoplasma. Dibagian ektoplasma terdapat bentukan menyerupai akar yang disebut trikosit. Fungi trikosit untuk melindungi diri dari terhadap serangan lawan dan juga untuk menambatkan diri pada hewan lain waktu mengambil makanan. Paramaecium caudatum mempunya dua inti, yaitu mikronukleus dan dan makronukleus. Fungsi makronukleus untuk mengatur proses metabolisme, sedangkan mikronukleus untuk perkembangbiakan. Setiap sel paramaecium caudatum mempunyai dua vakuola berdenyut, bentuk dan letaknya berbeda dengan vakuola yang dimiliki Amoeba proteus, tetapi fungsinya sama yaitu untuk eliminasi dan mengeluarkan air dari sitoplasma (Soemadji, 1986 hal: 308).
Merupakan filum hewan bersel satu yang dapat melakukan reproduksi seksual (generatif) maupun aseksual (vegetatif).Habitat hidupnya adalah tempat yang basah atau berair. Jika kondisi lingkungan tempat hidupnya tidak menguntungkanmaka protozoa akan membentuk membran tebal dan kuat yang disebut Kista. Ilmuwan yang pertama kali mempelajariprotozoa adalah Anthony van Leeuwenhoek. (Brotowijoyo,1986).
KLASIFIKASI PROTOZOA
Protozoa adalah protista mirip hewan (protozoa = hewan pertama (Yunani)). Awalnya protozoa disebut hewan bersel satu, tetapi karena terdapat beberapa ciri yang berbeda dengan hewan maka digolongkan ke dalam kingdom protista. Tubuh protozoa terdiri atas satu sel yang berukuran mikroskopis (antara 3-300 mikron), tidak mempunyai dinding sel, dan pada keadaan kurang menguntungkan ada yang dapat membentuk kista. (http://blog.unila.ac.id/wasetiawan)

Protozoa dapat dijumpai di parit, sawah, sungai, bendungan, air laut, bahkan ada yang hidup dalam makhluk hidup lain. Protozoa berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dengan membelah diri atau membentuk spora, dan secara seksual dengan konjugasi. (http://blog.unila.ac.id/wasetiawan).

Berdasarkan alat geraknya, protozoa dikelompokkan menjadi empat filum yaitu sebagai berikut:
1. Filum Rhizopoda (Sarcodina)
Ciri-ciri Rhizopoda sebagai berikut:
-          Tidak memiliki bentuk yang tetap.
-          Bergerak dan menangkap makanannya dengan kaki semu (pseudopodia) yang merupakan penjuluran sitoplasma tubuhnya. Rhizopoda bergerak dengan menjulurkan kaki semunya untuk berpindah tempat.
-          Ada yang hidup bebas di alam dan ada yang parasit.
-          Makanannya berupa bakteri atau bahan organik lain.
-          Berkembang biak dengan membelah diri.

Contoh anggota Rhizopoda adalah Amoeba sp., Foraminifera yang digunakan sebagai petunjuk dalam penyelidikan tanah yang mengandung minyak bumi, dan Radiolaria yang membentuk tanah radiolaria yang bermanfaat sebagai alat penggosok. (http://blog.unila.ac.id/wasetiawan).

2. Filum Fagellata (Mastigophora)
Filum Flagellata memiliki ciri khas yaitu memiliki alat gerak berupa bulu cambuk (flagela) yang berstruktur mirip cambuk yang panjang. Bulu cambuk ini digunakan dengan mencambukkan bulu cambuk ke arah yang diinginkan dan menggunakannya untuk memindahkan dirinya sendiri.
Contoh Flagellata adalah Trypanosoma sp. yang hidup secara parasit dalam darah manusia dan vertebrata lainnya, berkembang biak dengan membelah diri, dan menyebabkan penyakit tidur pada manusia. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan lalat tse-tse.(http://blog.unila.ac.id/wasetiawan).
Description: http://arisudev.files.wordpress.com/2010/08/trypanosoma-brucei1.jpeg?w=640
3. Filum Ciliata (Cilliophora)
Ciliata bergerak dengan bulu getar (silia) yang selalu bergetar untuk mendorong tubuhnya ke arah yang diinginkan seperti gerakan mendayung perahu. Selain itu, silia bisa digunakan untuk mengambil makanan.Ciliata berkembang biak secara vegetatif (aseksual) dengan membelah diri dan secara generatif (seksual) dengan cara konjugasi. (http://blog.unila.ac.id/wasetiawan).

Contoh Ciliata adalah Paramaecium spParamaecium disebut juga hewan sandal, karena bentuknya menyerupai telapak sandal.terdapat mulut sel pada permukaan membrane sel yang melekuk. Air dan makanan masuk ke mulut sel dengan getaran silia. Makanan yang masuk ke mulut sel lalu masuk ke kerongkongan sel, lalu ke vakuola makanan. Vakuola makanan beredar dalam sel sambil mencerna makanan. Sisa makanan berbentuk cair dikeluarkan melalui vakuola berdenyut/vakuola kontraktil, sementara sisa makanan berbentuk padat dikeluarkan melalui vakuola makanan yang pecah saat menepi ke membran sel.

Contoh Ciliata yang lain adalah Vorticella dan Stentor.


4. Filum Sporozoa
Filum ini berbeda dengan filum sebelumnya—anggota filum ini tidak mempunyai alat gerak. Disebut Sporozoa karena dalam tahap tertentu dalam hidupnya, dapat membentuk sejenis spora. Biasanya hidup sebagai parasit pada tubuh hewan maupun manusia. Contoh anggota Sporozoa adalah Plasmodium sp., penyebab penyakit malaria. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles sp. (http://blog.unila.ac.id/wasetiawan).
























Algae
Alga merupakan tumbuhan talus yaitu tumbuhan yang struktur organ tubuhnya belum dapat dibedakan dengan jelas. Tubuhnya memiliki sel tunggal dan juga sel banyak, yang berpigmen dan berklorofil. Umumnya tumbuhan ganggang hidup di tempat yang lembab, baik di air tawar maupun air laut. Semua alga mengandung klorofil tetapi ada pigmen lain yang ,menyusun yang terkandung dalam plastida. (Karman,2007).

Ada dua macam plastida pada alga (kecuali Cyanophyta)
a. Kloroplas : mengandung klorofil dan dapat juga terkandung pigmen lain yaitu xantofil dan karotin.
b. Kromoplas (kromatofor ) pembawa zat warna lain dari krorofil seperti pigmen xantofil dan karotin.
Dengan demikian alga dapat berfotosintesis. Ganggang berkembang biak dengan cara vegetatif dan generative (http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/03/).

Klasifikasi Alga- Oleh para ahli Biologi, alga dikelompokkan berdasarkan pigmen dominan yang dikandungnya. Pigmen yang terdapat pada alga adalah klorofil, karoten, fikoeritrin, fukosantin, dan fikosianin. Algadikelompokkan menjadi tujuh phylum, yakni Euglenophyta, Dinoflagelata, Chlorophyta, Chrysophyta, Bacillariophyta, Phaeophyta, dan Rhodophyta. Untuk lebih jelasnya pelajarilah uraian berikut.

1) Euglenophyta        (Euglenoid)
Phylum Euglenophyta memiliki anggota sekitar 800 spesies. Salah satu anggota phylum Euglenophyta adalah Euglena viridis. Beberapa spesies Euglenophyta memiliki kloroplas dan dapat melakukan fotosintesis seperti halnya tumbuhan, beberapa spesies tidak memiliki kloroplas dan hidup secara heterotrof. Euglenophyta yang dapat berfotosintesis mengandung klorofil a, b, karoten, dan terkadang pigmen antofil. Makanan cadangan hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk polisakarida yang disebut paramilon. (Banyu,2010).

Euglenophyta umumnya hidup di air tawar, seperti kolam atau danau dan memiliki flagel yang berfungsi sebagai alat gerak di air. Bintik mata berfungsi sebagai penerima cahaya dan memungkinkan Euglena bergerak menuju intensitas cahaya lebih tinggi sehingga meningkatkan fotosintesis. Euglena tidak memiliki dinding sel, namun memiliki pembungkus tubuh yang kuat dan lentur terbuat dari protein di atas membran plasmanya, disebut pelikel. Vakuola kontraktil berfungsi sebagai pompa yang mengeluarkan kelebihan air pada tubuh. (Banyu,2010).
Dari sekian banyak spesies Dinoflagellata yang diketahui, umumnya merupakan organisme uniselular, namun terdapat beberapa yang membentuk koloni. Phylum Dinoflagellata memiliki anggota sekitar 1.100 spesies. Setiap spesies Dinoflagellata memiliki bentuk tubuh berbedabeda yang terbuat dari dinding internal selulosa. Pergerakan dua flagela pada tubuhnya menghasilkan gerakan berputar sehingga organisme ini disebut Dinoflagellata. Dalam bahasa Yunani, dinos artinya berputar. Dinoflagellata umumnya hidup di laut. Beberapa melakukan simbiosis mutualisme dengan hewan Cnidaria. Dinoflagellata lain tidak memiliki kloroplas dan hidup parasit pada hewan laut. Bahkan ada yang bersifat karnivor. Ledakan populasi Dinoflagellata menyebabkan gelombang merah (red tide). Populasi ini berwarna merah kecokelatan. Ketika kerang atau remis mengonsumsi alga ini, mereka akan mengumpulkan racun yang dihasilkan oleh Dinoflagellata. Meski racun tersebut tidak menyebabkan kematian pada Mollusca tersebut, namun racun berbahaya bagi ikan, penyu, dan manusia yang mengonsumsi Mollusca. Dinoflagellata dibedakan karena memiliki permukaan tubuh dari lempengan selulosa dan dua flagela. Umumnya berwarna kekuningan hingga cokelat keemasan. Beberapa Dinoflagellata lain, seperti Gymnodinium, mengandung pigmen merah dan kadang menyebabkan gelombang merah yang meracuni beberapa hewan. (Banyu,2010).
Phylum Chlorophyta memiliki anggota sekitar 7.000 spesies. Chlorophyta disebut juga alga hijau. Disebut alga hijau karena pigmen dominan yang dikandungnya berwarna hijau. Pigmen berwarna hijau tersebut adalah klorofil. Klorofil dalam alga hijau terkumpul dalam suatu organel sel yang disebut kloroplas. Pada anggota phylum Chlorophyta, bentuk dari kloroplasnya bermacam-macam. Kloroplas ini ada yang berbentuk mangkok contohnya Chlorella; berbentuk spiral contohnya Spirogyra; dan berbentuk bintang contohnya ygnema. Berikut ini akan dijelaskan beberapa contoh spesies dari phylum Chlorophyta. (Banyu,2010).
a) Chlorella
Chlorella adalah alga hijau uniselular yang memiliki bentuk bulat seperti bola. Kloroplasnya berbentuk mangkuk. Habitat hidupnya terdapat di perairan tawar, laut serta tempat-tempat yang basah. Chlorella berkembang biak secara aseksual melalui pembelahan diri. Dalam pemanfaatannya, Chlorella dapat dijadikan sumber makanan baru.
b)Spirogyra
Spirogyra memiliki habitat di perairan tawar. Spirogyra memiliki bentuk kloroplas menyerupai pita dan berukuran besar. Hal tersebutlah yang memudahkan kita untuk mengenali spesies ini. Reproduksi pada Spirogyra berlangsung secara aseksual, yaitu dengan cara fragmentasi. Adapun secara seksual terjadi melalui konjugasi.
c) Ulva
Ulvva sering disebut selada laut karena morfologinya yang mirip selada. Ulva hidup di lautan dan sebagian hidup di air payau. Ulva pun dapat hidup di perairan yang terkena polusi bahan organik, misalnya perairan yang terpolusi oleh tinja. Ulva menempel pada dasar perairan. Tubuh talusnya berbentuk lembaran tipis melebar dan lebarnya dapat mencapai satu meter. Talus Ulva terdapat dua macam, yaitu talus haploid dan talus diploid. Secara morfologi, kedua macam talus ini berbentuk sama sehingga bersifat isomorfisme.
Perkembangbiakan Ulva dapat dilakukan secara aseksual maupun seksual. Perkembangbiakan secara aseksual, dengan membentuk zoospora yang memiliki flagela empat buah. Adapun secara seksual, telur ulva yang haploid akan menghasilkan gamet jantan dan gamet betina, berflagela dua yang berbentuk sama (isogamet). Gamet jantan tersebut akan membuahi gamet betina yang nantinya akan terbentuk zigot . (Karman,2007).
2. Chrysophyta (Alga Keemasan)
Phylum ini memiliki jumlah sekitar 850 spesies. Chrysophyta disebut juga alga keemasan. Sesuai dengan namanya, alga ini memiliki warna kuning keemasan. Pigmen yang dominan pada alga ini adalah pigmen karoten. Selain pigmen tersebut, Chrysophyta memiliki pigmen lain di dalam tubuhnya, yaitu klorofil dan fukosantin. Habitat dari alga ini adalah di perairan tawar dan laut. Spesies ini ada yang uniselular dan ada pula yang multiselular. (karman,2007).
Perkembangbiakan Chrysophyta yang uniselular dan multiselular terjadi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual pada Chrysophyta multiseluler dilakukan dengan spora dan pada Chrysophyta uniseluler dilakukan dengan pembelahan biner dan pembentukan spora. Reproduksi seksual dilakukan dengan peleburan gamet. Makanan cadangan alga ini berupa laminarin. Alga keemasan yang uniseluler merupakan komponen fitoplankton. Contoh anggota Chrysophyta adalah Vaucheria, Synura, dan Mischococcus. (Karman,2007).

3. Bacillariophyta (Diatom)
Phylum ini memiliki anggota yang paling banyak, yaitu sekitar 10.000 spesies. Diatom termasuk alga uniselular dan merupakan penyusun fitoplankton, baik di perairan tawar maupun di lautan. Bentuk Diatom sangat khas (Gambar 3.21) dengan dinding tubuhnya yang terdiri atas kotak (hipoteka) dan tutup (epiteka). Antara kotak dan tutup tersebut terdapat celah yang disebut rafe. Dinding selnya mengandung pektin dan silikat. Apabila mati, cangkangnya akan bertumpuk membentuk tanah diatom. Tanah ini bernilai ekonomis tinggi karena dapat digunakan sebagai bahan penggosok, penyuling gasolin, bahan pembuatan jalan, sampai bahan dinamit. Diatom sering tampak bergerak maju mundur dan berputar.
Perkembangbiakan Diatom dapat dilakukan secara aseksual maupun seksual. Secara aseksual, Diatom akan membelah diri dengan cara melepaskan kotak dari tutupnya. Baik tutup maupun kotak tersebut akan membentuk kotak di bagian dalamnya. Dengan kata lain, baik tutup maupun kotak akan menjadi tutup. Keadaan demikian akan berlangsung terus-menerus sampai ukurannya minimum. (Karman,2007).
4. Phaeophyta (Alga Cokelat)
Phylum Phaeophyta adalah alga yang memiliki anggota cukup banyak, yaitu sekitar 1.500 spesies. Hampir semua anggotanya adalah multiseluler dan sebagian besar habitatnya di laut. Hanya beberapa jenis saja yang hidup di perairan tawar. Pigmen yang paling dominan pada Phaeophyta adalah fukosantin atau warna cokelat. Struktur tubuh Phaeophyta mirip dengan tumbuhan tinggi karena terdapat struktur yang menyerupai akar, batang, dan daun.

Perkembangbiakan Phaeophyta dapat terjadi secara aseksual dan seksual. Secara aseksual, Phaeophyta berkembang biak dengan membentuk zoospora. Untuk perkembangbiakan secara seksualnya, Phaeophyta menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Contoh dari alga cokelat adalah Sargassum, ucus, dan Turbinaria. (Karman,2007).
5. Rhodophyta (Alga Merah)
Rhodophyta atau alga merah merupakan phylum yang memiliki pigmen dominan fikoeritrin atau merah. Phylum ini memiliki anggota yang banyak, yaitu sekitar 4.000 spesies. Rhodophyta habitatnya sebagian besar di laut. Akan tetapi, ada pula yang hidup di perairan tawar.

Perkembangbiakan Rhodophyta terjadi secara aseksual dan seksual. Secara aseksual, Rhodophyta membentuk tetraspora yang akan menjadi gamet membentuk gamet jantan dan gamet betina. Adapun secara seksual, yaitu dengan jantan dan gamet betina. Gamet jantannya tidak memiliki flagela dan disebut spermatium. Adapun gamet betinanya berflagela, dan disebut karpogonium. Contoh spesies dari phylum Rhodophyta adalah Corallina, Eucheuma, dan Gelidium. (Karman,2007).


III.             BAHAN DAN METODA

3.1.Cara – Cara Membersihkan  Alat
3.1.1. Judul dan tujuan : judul praktikum ini adalah cara – cara membersihkan alat – alat gelas dan tujuannya untuk Memahami berbagai macam cara /prosedur membersihkan alat-alat gelas.
3.1.2. Cara kerja :
a.       Alat gelas yang masih baru
Masukkan alat- alat gelas (tabung reaksi,pethridish,erlemenyer)Yang masih baru ke dalam larutan Na3PO4 sampai mendidih beberapa saat.Cuci hingga bersih dan rendam dalam HCL 1% selama 24 jam untuk melarutkan lapisan fosfat.cuci lagi dengan air dan bersihkan dengan aquades lalu keringkan dalam oven.
b.      Alat-Alat gelas yang sudah dipakai:
Sterilkan semua alat yang sudah dipakai dalam autoclav pada tekanan 15 lbs(2 atm Dan tempereratur 121C).rendam dengan Na3PO4selama beberapa menit.setelah agak dingin disikat sampai bersih dan cuci dengan air,kemudian di rendam dalam larutan HCL 1%.cuci lagi dengan air dan aquades,keringkan dalam oven.
c.       Pipet yang masih baru :
Masukkan pipet kedalam larutan Na3PO4 1% selama 10 menit,cuci dengan air bersih dan aquades.keringkan dengan oven.
d.      Pipet yang sudah dipakai :
Pipet yang sudah dipakai untuk mengambil  mikroba harus didisenfeksi dengan larutan fenol 5% atau disenfektan lain.kemudian keringkan keringkan.renda dalam larutan NaPO4 1% selama 10menit,cuci dengan air aquades dan keringkan.rendam dalam larutan HCL 1% untuk melarutkan vosfat pada gelas selama 24 jam,kemudian cuci dengan air dan bersihkan dengan aquades dan keringkan dengan oven.

e.       Objek glass yang masih baru
Rendam objek glass dalam larutan alkohol asam(HCL3%) selama beberapa jam.cuci dengan air dan bersihkan dengan aquades.keringkan dengan menggosok dengan kain halus,jangan sampai terjadipengotoran lemak darin tangan,jadi pegang pada tepinya saja,simpan dalam tutupataupetridish sebaelum dipakai.
f.       Cover glass yang masih baru
Masukkan cover glass satu persatu kedalam larutan alkohol asam dancuci satu persatu dengan air bersih.keringkan dan simpan dalam tempat tertutup atau dalam petridids.
g.      Objek glass dan cover glass yang sudah dipakai
Rendam dalam NaPO4 1% selama 15 menit,cuci dengan air dan rendam dalam larutan HCL 1%.
3.2. Pembuatan Media Kultur Mikroorganisme
3.2.1.      judul dan Tujuan
Praktikum dengan judul Media Pertumbuhan ini bertujuan agar mahasiswa dapat membuat media pertumbuhan Nutrient Agar dan Potato Dextrose Agar.
3.2.2.      Alat dan Bahan
Pembuatan Potato Dextrose Agar Aquadest  1 liter, Kentang 200 gr, Dextrose 20 gr, Agar 2 sachet, Kompor elektrik, Gelas piala besar dan pengaduk, juga antibiotic
Pembuatan Nutrient Agar Yeast ekstrak/ Beef Ekstrak, Pepton 5 gr, Agar 15 gr, Aquadest 1 liter, Kompor elektrik dan Gelas piala dan pengaduk
3.2.3.      Cara kerja
Pembuatan Potato Dextrose Agar  Kentang dikupas, lalu dipotong balok ukuran 1 x 1 cm, Kentang lalu direbus dengan aquadest sebanyak 1 liter, Lalu kentang disaring, Lalu dimasak kembali dan dicampur agar perlahan sambil diaduk hingga mendidih, Jika diperlukan dapat ditambahkan antibiotic untuk mengambat pertumbuhan bakteri pada media tersebut. Dan dimasukkan pengaduk supaya agar dan pati kentang itu bercampur secara merata setelah itu dimasukkan ke botol hingga dingin dan padat.
Pembuatan Nutrient Agar Masukkan air kedalam wadah lalu dimasak, Lalu masukkan agar, Lau ditambahkan pepton dan yeast ekstrak/beef ekstrak, Aduk perlahan sampai mendidih. Kemudian dimasukkan ke dalam botol kemudian didinginkan.
 3.3.Isolasi jamur
3.3.1. Judul dan Tujuan
Pratikum dengan judul Pembiakan Murni Jamur ini bertujuan untuk merangsang perkebangan jamur pada jaringan/ inangnya.
3.3.2.      Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Aquadest, Alkohol 70%, Cawan petri plastic, Pinset, Pisau pemotong/gunting dan Kertas saring
3.3.3.       Cara kerja
Cara kerja pada praktikum ini yaitu, bersihkan daun atau bagian tanaman yang yang terinfeksi jamur rendam dalam aquadest lalu paandahkan rendam ke alkohol 70% selama setengah menit lalu rendam kembali di aquadest, Lalu dikeringanginkan, Siapkan dua petridish plastik, masukkan kertas saring didalamnya lalu lembabkan jertas saring tersebut dengan aquadest, kemudian daun atau bagian tanaman yang terinfeksi jamur yang telah dikeringanginkan diletakkan pada kertas saring yang telah dilembabkan, lalu tutup cawan petri tersebut, Lalu diinkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu ruangan.


 3.4.Biakan Murni Jamur
3.4.1.      Judul dan Tujuan
Judul nya adalah pembiakan murni jamur dan tujuannya adalah untuk menisolasi dan mengindentifikasi jamur yang berasal dari moist chamber.
3.4.2.      Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan yaitu, biakan jamur dari moist chamber,aquadest,alcohol 70 %, kertas saring, medium PDA, pisau silet, petri dish plastic dan kaca, lampu spiritus, jarum ose, pinset, incubator dan entcase.
3.4.3.      Cara Kerja
Panaskan terlebih dahulu media PDA sampai mencair dan kemudian dibiarkan dingin hingga mencapai suhu 50˚C, kemudian tuangkan media PDA kedalam petridish dan dibiarkan dingin dan padat, lalu sterilkan jarum ose, diambil jamur dari biakan dan dipindahkan secepatnya pada bagian tengah petridish kemudian diberi label dan diinkubasikan dalam incubator, setelah 2 x 24 jam diamati pertumbuhannya dan digambarkan, pengamatan secara makroskopis meliputi : bentuk koloni,ukuran koloni,warna koloni, dan bentuk areal miselia kemudian untuk mikroskopis meliputi : hifa, spora, dan konidia.
 3.5.Pengenalan Mikroba
3.5.1.      Judul dan Tujuan
Judul dari praktikum ini adalah pengenalan mikroba dan tujuannya adalah untuk mengenal beberapa jenis jamur dan struktur tubuhnya.
3.5.2.      Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Pengenalan Mikroba yaitu biakan jamur (pada roti,tongkol jagung, dan tempe), aquadest steril,kapas,kertas saring,jarum preparat, objek glass dan cover glass, dan mikroskop.
3.5.3.      Cara Kerja
Cara kerja pada pengenalan mikroba pertama Bersihkan objek glass dengan alcohol sampai bebas dari debu dan lemak,kemudian ditetesi akuades pada bagian tengahnya, diambil sedikit jamur pada roti dengan jarum preparat, kemudian di letakkan diatas objek glass yang telah ditetesi akuades, jika massa miselia mengumpul dipisahkan dengan menggunakan dua jarum preparat, kemudian tutup dengan cover glass, dijaga agar tidak ada gelembung – gelembung udara, lalu diamati dengan mikroskop perbesaran lemah (10 x 10) dan perbesaran sedang (10 x 45).
3.6. Isolasi Bakteri
            3.6.1. Judul dan tujuan
Praktikum ini berjudul Isolasi Bakteri Dan Tujuannya adalah  Untuk mengisolasi,mengidentifikasi dan membiakkan bakteri yang terdapat pada tanaman.
3.6.2   Alat Dan Bahan
Adapun Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Petridisk,Bunsen,pipet tetes,testub,Micropipet,mortal,pinset. Sedangkan Bahan yang digunakan adalah Tanaman yang bergejala bakteri, aquades,media NA, Dan Alkohol.
3.6.3.      Cara Kerja
Bagian tanaman yang bergejala penyakit dipotong (0,5 bagian yang sakit dan 0,5 bagian yang sehat), kemudian sterilisasi permukaan dengan aquadest-alkohol-aquadest masing-masing selama 2 menit,sampel dimaserasi (penghancuran) dengan mengunakan mortal dengan menambah 10 ml aquades, sampel yang mengandung bakteri dimasukkan kedalam testub pertama (1/10 atau 10-1) kemudian divortek, diambil 1 ml dari tabung 10-1 dengan pipet ukur kemudian dipindahkan ke tabung 10-2 kemudian divortek,lakukan hal yang sama sampai pengenceran 10-6, hal yang perlu diingat bahwa pipet ukur yang digunakan harus selalu diganti,artinya setiap tingkat pengenceran digunakan pipet ukur steril yang berbeda atau baru. Prinsipnya bahwa pipet tidak perlu diganti jika memindakan cairan dari sumber yang sama, Ambil 1 ml cairan dari pengenceran 10-5  dan 10-6 dengan pipet ukur dan masukkan kedalam testub yang telah diisi media NA 9 ml,kemudian di vortek, setelah itu tuangkan ke dalam cawan petri dan tunggu sampai media NA padat,letakkan cawan petri tersebut di dalam ruang isolasi dengancara membalik petri, Di incubasi selama 2 x 24 jampada suhu kamar, Amati dan identrifikasi koloni bakteri yang tumbuh.
 3.7.Biakan Murni
3.7.1.  Judul dan Tujuan
Praktikum ini berjudul Biakan Murni dan bertujuan mempelajari mendapatklan biakan – biakan murni dari suatu biakan campuran.
3.7.2. Alat Dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu Jarum Ose,bunsen dan mikroskop, Sedangkan Bahan yang digunakan yaitu suspensi campuran, Petridisc yang telah berisi NA.
3.7.3.Cara Kerja
Setelah bakteri yang diisolasi tumbuh dalam cawan petri, maka dilakukan metode gores untuk mendapatkan biakan murni dari bakteri yang digunakan, dengan Memasukkan media NA kedalam cawan petri sebanyak 9 ml, dinginkan sampai agar padat,lakukan sterilisasi pada jarus ose dengan cara membakar ose pada bunsen sampai ose kemerah-merahhan,jarum ose yang telah disterilisasi didinginkan kedalam cawan petri yang telah di isi NA baru pada bagian pinggir,Ambil satu koloni jamur dengan jarum ose,sentuh kan jarum ose kedalam medium dan goreskan secara kontinyu sampai setengah permukaan agar dan lanjutkan goresan sampai habis, Di incubasi selama 2 x 24 jam, Dan setelah tumbuh di dokumentasikan.


3.8. Haemocytometer
3.8.1. Tujuan,untuk mengenal konstruksi haemacytometer dan menggunakanya untuk menghitung sel ragi dengan bantuan mikroskop.
3.8.2. Bahan dan Alat pada pratikum ini adalah:
suspensi jamur,haemacytometer,mikroskop,pipet hisap.

3.8.3.      Cara kerja:
Bersihkan permukaan hitungan dan panutup hemasitometer dengan searik kertas lensa yang telah dibasahi dengan setetes aquades samapai tidak lagi tertinggal siasanya,letakkan kaca penutup hemasitiometer diatas permukaaan hitungan himasitometer,aduk suspensi jamur baik-baik menggunakan pipet pasteur ambilah suspensi sebanyak 0,1 sampai 0,5ml.letakkan ujung pipet pada lekukan berbentuk V pada tepi kaca tutup hemasitometer dan biarkan ruangan himasitometer terpenuhi suspensi secara kaliper.usahan agar tidak ada cairan yang masuk diantara kaca tutup dan penyangga kaca tutup.letakkan himasitometer diatas pentas mikroskop dan amatilah dengan  objektif  berkuatan rendah dan hitunglah jumlah sel yang terdapat pada 8 buah kotak kecil yang terletak didalam kotak bagian tengah yang berukuran 1mm itu.cara menghitungnya adalah: dapat dilihat pada sell.seluruhnya ada sembilan area,masing-masing berukuran 1mm.kotak besar ini dibagi menjadi 16 kotak kecil.dengan demikian didalam kotak tengah seluruhnya terdapat 400 kotak kecil(25x16).











IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil

4.1.1.      Cara membersihkan alat – alat

Description: C:\Users\user\Downloads\hal02.jpg 
Description: C:\Users\user\Downloads\image16.png

4.1.2.      Pembuatan media

Media PDA dan NA
Description: C:\Users\user\Downloads\JPhoto011.jpg
Description: http://htmlimg1.scribdassets.com/1udxzlc7eopdd60/images/8-135ba37a43.jpg

Nutrien Agar (NA)
Warna : kuning
Komposisi : aquadest 500 ml, pepteon 2,5 g,ekstrak beef 1,5 g, dan agar 1 bungkus

Potato Dextrose Agar (PDA)
Warna : kuning pucat
Komposisi : aquadest 500 ml,dekstrosa 20 g, agar 1 bungkus, kentang 100 g, dan kloramfenikol 1 tablet

4.1.3.      Isolasi jamur
 Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\29022012120.jpg    Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\Moist chamber cabai.jpg






4.1.4.      Pembiakan murni jamur
Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\27022012108.jpg      Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\27022012107.jpgDescription: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\27022012105.jpg      Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\Jamur hsl pmbiakan.jpg







4.1.5.      Pengenalan mikroba
Jamur pada tempe
Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\Jamur tanaman tempe.jpg   

Jamur pada roti
Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\Roti jamur.jpg


Jamur pada tongkol jagung
     Description: C:\Users\user\Documents\Bluetooth\Inbox\Foto0577.jpg






4.1.6.      Isolasi bakteri
Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\Vegetasi.jpg 
                      Tanah Vegetasi
  Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\Non vegetasi.jpg
         Tanah non vegetasi








4.1.7.      Biakan murni
Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\02032012130.jpg     Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\02032012132.jpg              Description: D:\film\foto laporan akhr\foto laporan akhir\02032012131.jpg






4.2.      PEMBAHASAN
4.2.1.      Cara membersihkan alat – alat
Pada praktikum mikrobiologi hal yang pertama  yang perlu dilakukan adalah kita harus mengenal alat – alat praktikum dan tahu cara membersihkan alat – alat praktikum tersebut. Untuk alat – alat yang masih baru kita bersihkan dengan memasukkkannya ke dalam larutan Na3PO4 sampai mendidih agar debu atau mikroba yang terdapat pada alat – alat itu hilang kemudian dicuci dan setelah itu direndam dalam HCl untuk melarutkan lapisan fosfat. Lalu di cuci dan dibersihkan lagi dengan aquadest dan di keringkan dalam oven agar alat – alat itu benar – benar steril.
Untuk alat – alat yang sudah dipakai kita juga perlu untuk mensterilkannya agar ketika melakukan praktikum dengan objek lain, mikroba yang masih menempel di alat – alat itu tidak mengganggu kegiatan praktikum, alat – alat yang sudah dipakai itu dibersihkan dengan cara mensterilkan alat – alat itu si autoclave pada tekanan 15 lbs dengan temperature 121 derajat celcius selama 20 menit untuk menghindarkan bahaya bakteri pathogen, kemudian di rendam pada larutan Na3PO4 setelah itu dicuci dengan air dan dimasukkan lagi ke dalam larutan HCl 1% lalu dicuci dengan aquadest dan di keringkan dalam oven.
Jika semua alat yang masih baru maupun yang sudah dipakai itu dalam keadaan steril maka praktikum bias dijalankan. Diman alat – alat yang digunakan adalah botol scoat, Erlenmeyer, petri dish, objek glass, test tube, cover glass, jarum ose, lumpang poreslin, autoclave, kompor, microwave, incubator, colony comter, oven, shaker, vortek, laminar, mikrotube, batang pengaduk dan spiral.

4.2.2.      Pembuatan media
Medium pertumbuhan mikrobia adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrient yang diperlukan mikrobia untuk pertumbuhannya. Untuk memberikan kondisi hidup yang cocok bagi pertumbuhan bakteri maka media harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba, harus mempunyai tekanan osmosis, tegangan permukaan, dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba yang ditumbuhkan serta  tidak mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba, dan harus berada dalam kondisi yang steril sebelum digunakan.
Medium NA berdasarkan susunan kimianya merupakan medium nonsintetik/semi almiah, berdasarkan konsistensinya merupakan medium padat.Medium ini digunakan untuk pertumbuhan bakteri. Medium PDA menurut konsistensinya termasuk medium padat, berdasarkan susunan kimianya termasuk non sintetik/semi alamiah. Medium PDA digunakan untuk menumbuhkan jamur (fungi).

Komposisi yang digunakan untuk membuat medium NA seberat 11,5gram adalah bacterial pepton 5 gr/l, meal extract  3 gr/l, agar 15 gr/l dan aquades500 ml. Sedangkan untuk media PDA seberat 19,5 gram, bahan yang digunakanmeliputi potato extract 4 gr/l, glukosa 70 gr/l, agar 15 gr/l dan aquades 500 ml.Komposisi NA yang terdiri dari: meal ekstract  berfungsi sebagai sumber karbohidrat, mengandung senyawa nitrogen organik yang dibutuhkan mikroba. Pepton merupakan sumber protein dan penghasil nitrogen, agar berfungsi sebagai pemadat medium, dan aquades berfungsi sebagai pelarut.

Komposisi PDA yang terdiri dari: glukosa berfungsi sebagai sumber karbon. Potato ekstract  sebagai sumber karbohidrat, agar berfungsi memadatkan medium serta aquades berfungsisebagai pelarut dan sumber oksigen. Medium NA pada tahap akhir berwarna kuning sedangkan medium PDA berwarna kuning pucat.

4.2.3.      Isolasi jamur
Pada praktikum isolasi jamur, kita mengisolasi jamur yang terdapat pada tanaman, pada praktikum ini kita gunakan jamur yang terdapat pada cabai, kita mengisolasi jamur pada cabai dengan memotong bagian yang terserang jamur pada cabai dengan ukuran 1 x 1 cm, dimana bagian yang diisolasi itu setengah masih sehat dan setengah nya lagi yang terserang jamur itu tujuannya agar saat dimasukkan ke media PDA, jamur itu bisa bertahan dengan memakan bagian tanaman yang masih sehat itu dan bias berkembang agar kita bias mengamati perkembangan jamur itu. Tapi media PDA yang berisi biakan jamur itu kita letakkan di incubator untuk diinkubasi, karena jika kita letakkan di sembarang tempat besar kemungkinan jamur itu terganggu perkembangbiakannya tapi diinkubator itu bias di sesuaikan suhu yang pas untuk perkembangan jamur tersebut.
4.2.4.      Biakan murni jamur
Pada praktikum biakan murni jamur ini, kita akan mengidentifikasi jamur yang berasal dari moist chamber dengan mengambil biakan jamur kemudian dipindahkan ke media PDA yang baru. Setelah itu diinkubasi selama 2 x 24 jam. Hasil pengamatan yang didapat adalah bentuk koloni nya bulat, ada yang bergerombol atau berkumpul da nada juga yang tunggal, kemudian ukuran koloni nya ada yang kecil da nada juga yang besar dan warna koloninya adalah putih, bentuk areal miselia nya seperti jala. Dengan sangat cepat jamur itu berkembangbiak karena jamur itu memperbanyak dirinya dalam hitungan detik jadi perkembangannya sangat cepat.

4.2.5.      Pengenalan mikroba
Pada praktikum pengenalan mikroba, diamati jamur yang ada pada roti,tongkol jagung dan tempe. Setelah diamati dengan mikroskop terlihat jamur seperti yang ada pada hasil, tapi untuk menentukan jamur yang terlihat itu kita harus tahu jamur apa yang terdapat pada roti,jagung,maupun tempe. Jamur yang terdapat pada sampel yaitu aspergillus pada roti kemudian aspergillus dan rhizopus pada tongkol jagung, dan rhizopus pada tempe. Setelah kita tahu nama jamurnya, kita menentukan ciri – ciri jamur itu, aspergillus dan rhizopus itu hamper sama bentuknya, bentuknya seperti benang tapi rhizopus itu terlihat lebih jelas bentuknya. Untuk tipe sporanya juga sama yaitu bulat,oval, atau berbentuk elips atau silinder sedangkan untuk struktur hifanya itu berupa benang – benang yang berkumpul seperti benang kusut.Kemudian tipe spora jamur – jamur itu adalah bulat,oval, atau berbentuk elips atau silinder sedangkan genus dari aspergillus sp ini adalah aspergillus dan genus dari rhizopus sp adalah rhizopus.


4.2.6.      Isolasi bakteri
Untuk prraktikum isolasi bakteri, kita mengambil sampel bakteri yang terdapat pada tanah vegetasi dan non vegetasi, untuk mengambil sampel nya yang akan biakkan, terlebih dahulu sampel tersebut dimaserasi dengan menggunakan mortal. Sampel tanah yang mengandung bakteri dimasukkan ke dalam tabung reaksi pertama yang berisi 9 ml air kemudian di vortek lalu diambil dari tabung itu 1 ml dengan mikro pipet kemudian dipindahkan ke tabung reaksi yang kedua kemudian di vortek kembali, itu dilakukan sampai pada tabung reaksi yang ke enam, dan sampel yang diambil untuk dimasukkan ke cawan petri adalah pada tabung reaksi yang kelima dan keenam karena pada tabung reaksi yang kelima dan keenam lebih bagus untuk dibuat sampel pengamatan dan tanah yang ada juga sudah sedikit. Setelah sampel diambil dituangkan ke media NA dengan cara membalikkan cawan perti untuk menghindarkan terjadinya kontaminasi kemudian diinkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu kamar.

4.2.7.      Biakan murni
Biakan murni bakteri adalah biakan yang terdiri atas satu spesies bakteri yang ditumbuhkan dalam medium buatan. Medium buatan tersebut berfungsi sebagai medium pertumbuhan. Pada medium ini bakteri dapat tumbuh dan berkembangbiak. Bahan dasar yang digunakan untuk medium pertumbuhan ini adalah agar-agar. Untuk bakteri heterotrof, medium dilengkapi dengan air, molekul makanan (misal gula) sumber nitrogen dan mineral. Untuk hasil yang lebih baik agar bakteri tumbuh, alat dan bahan yang digunakan disterilkan terlebih dahulu.
Untuk biakan murni ini kita gunakan metode cawan gores, dengan mengambil koloni bakteri dari hasil isolasi bakteri tanah vegetasi / nonvegetasi yang sudah diinkubasi selama 2 x 24 jam. Teknik goresan yang kita gunakan adalah teknik goresan kuadran. Prinsipnya adalah sam dengan yang lainnya yaitu pengenceran dimana goresan pertama paling pekat kemudian menjadi semakin encer pada goresan keempat yang terletak di tengah – tengah media. Jika penggoresan ini dilakukan dengan baik akan menghasilkan terisolasinya mikroorganisme, dimana setiap koloni berasal dari satu sel. Berdasarkan hasil pembiakan pada media agar di cawan petri, setelah diinkubasi selama 2 x 24 jam akan tampak koloni yang bertumpuk atau bergerombol tebal pada media agar yang digores.
4.2.8.      haemacytometer
pada praktikum haemacytometer tidak jadi dilaksanakan karena alatnya tidak ada, tapi perlu kita ketahui bahwa haemacytometer itu adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur atau menghitung jumlah sel atau massa sel pada metode hitungsn mikroskopis. Cara mengukur jumlah sel pada haemacytometer ini ada 3 cara yaitu : hitungan cawan, hitungan mikroskopis langsung, atau secara elektronis dengan bantuan alat yang disebut penghitung coulter.













V.KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.1. cara membersihkan alat – alat

5.1.1.1. kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diperoleh suatu kesimpulan, dimana sterilisasi merupakan suatu proses pemusnahan mikrobia yang tidak kita inginkan dengan cara membunuh mikroorganisme tersebut.Metode sterilisasi dapat menggunakan cara pemanasan, menggunakan bahan kimia, penyaringan serta radiasi. Pemanasan dapat terbagi menjadi 2 meliputi pemanasan basah dengan uap air panas dan Auto clave , sedangkan pemanasan kering dengan cara dibakar serta uap panas.

5.1.1.2. saran
Saat melakukan sterilisasi sebaiknya praktikan harus serius dalam melakukannya agar tidak terjadi kecelakaan.

5.1.2. pembuatan media
5.1.2.1. kesimpulan
            Tahapan pembuatan medium tumbuh mikroba meliputi pencampuran semua bahan yang digunakan, yang kemudian dengan proses sterilisasi basah(auto clave) dan terakhir menginkubasi medium tersebut paling sedikit 2 x 24 jam.Medium NA pada tahap akhir berwarna kuning, sedangkan medium PDA berwarna kuning pucat. Medium NA berguna untuk menumbuhkan bakteri danmedium PDA berguna untuk menumbuhkan fungi.

5.1.2.1. saran
Dalam pembuatan medium, sebaiknya praktikan melaukukannya dengan sungguh – sungguh karena jika komposisi yang di buat salah maka media yang dibuat tidak berhasil.



5.1.3. isolasi jamur

5.1.3.1. kesimpulan
                Dengan isolasi jamur yang diletakkan pada media PDA dibuat setengah sakit dan setengahnya sehat agar jamur itu bias berkembang dan mendapatkan makanan yang cukup untuk pertumbuhannya selama diinkubasikan.

5.1.3.2. saran
Praktikan harus hati – hati dalam mengisolasi jamur agar hasil yang didapatkan maksimal, semoga pada praktikum selanjutnya bias berjalan dengan lancer.

5.1.4. biakan murni jamur

5.1.4.1.Kesimpulan
Biakan jamur dari moist chamber pada isolasi jamur berkembang dengan baik dimana warna koloni dari biakan jamur itu berwarna putih. Biakan murni adalah biakan yang sel – sel nya berasal dari pembelahan satu sel tunggal, biakan murni dapat diperoleh dengan cara metode cawan tuang dan metode cawan sebar.

5.1.4.2. saran
Praktikan harus berhati – hati dalam memasukkan jamur ke dalam media PDA dan dalam mensterilkan jarum ose juga harus berhati – hati dan dipastikan jarum ose itu benar – benar steril agar tidak terjadi kontaminasi.

5.1.5. pengenalan mikroba

5.1.5.1. kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan pada objek pengenalan mikroba dapat disimpulkan bahwa jenis jamur yang ada pada roti adalah aspergillus, pada tongkol jagung aspergillus dan rhizopus dan pada tempe adalah rhizopus, kemudian strukturnya hamper sama yaitu seperti benang.
5.1.5.2. saran
Dalam mengambil sampel harus sesuai kebutuhan dan tidak boleh terlalu banyak agar labih mudah untuk mengamatinya di mikroskop dan praktikan lebih mudah melihat srtuktur dari jamur tersebut.

5.1.6. isolasi bakteri

5.1.6.1. kesimpulan
Sampel yang digunakan untuk praktikum ini adalah tanah vegetasi dan non vegetasi dan yang akan dibiakkan dan dimasukkan ke dalam media NA adalah pada  tabung reaksi yang ke lima dan ke enam yang sudah di vortek.

5.1.6.2. saran
dalam memvortek praktikan harus berhati – hati agar air yang ada  pada tabung reaksi tidak tumpah sehingga tidak menimbulkan kotor.

5.1.7. biakan murni

5.1.7.1. kesimpulan
Pada biakan murni bakteri digunakan bakteri pada tanah vegetasi dan nonvegetasi yang sudah di vortek dengan menggunakan metode cawan gores dan hasil biakannya terlihat koloninya berwarna merah baik pada  tanah vegetasi maupun non vegetasi dan bentuk koloninya itu bulat atau oval kemudian ukuran koloninya ada yang besar, kecil, bergerombol dan tunggal (sendiri).

5.1.7.2. saran
Dalam melakukan goresan pada metode cawan gores, praktikan harus berhati – hati jangan sampai merusak media karena jika media rusak, mungkin biakan tidak berkembang dengan baik.



5.1.8. haemacytometer

5.1.8.1. kesimpulan
haemacytometer itu adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur atau menghitung jumlah sel atau massa sel pada metode hitungsn mikroskopis. Cara mengukur jumlah sel pada haemacytometer ini ada 3 cara yaitu : hitungan cawan, hitungan mikroskopis langsung, atau secara elektronis dengan bantuan alat yang disebut penghitung coulter.
5.1.8.2. saran
Saat melakukan perhitungan jumlah sel dengan haemacytometer, praktikan harus lebih teliti agar hasil yang didapatkan akurat dan kesalahannya sedikit bahkan tidak ada.













DAFTAR PUSTAKA
Ayu.2002.biologi umum.erlangga:Jakarta.
Banyu.2010.Algae.http://banyublogz.blogspot.com/2010_01_01_archive.htmlDiakses tanggal 10 Oktober 2010.

Brotowijoyo.1986.Protozoa.Bandung : Grafindo.
Carter, JB.; Saunders, VA. (2007), Virology: Principles and Applications, England: John Wiley & Sons, Ltd.
Cheville, NF. (1994), Ultrastructural Pathology : an Introduction to Interpretion, Iowa: Iowa State University Press,
Hadioetomo, R.S. 1993.Mikrobiologi Dasar dalam Praktik : Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
http://blog.unila.ac.id/wasetiawan/protozoa.
Karman, Oman.2007.Cerdas Belajar Biologi.Bandung:Grafindo
Kusnadi, Peristiwati, Ammi Syulasmi, Widi Purwianingsih, & DianaRochintaniawati. 2003. Mikrobiologi.FMIPA Biologi:UMY.

 Lay, B.W & S. Hastowo. 1992.Mikrobiologi. Rajawali Pers, Jakarta.

Nermut, MV.; Steven, AC. (1987), Animal Virus Structure, New York: Elsevier Science Publishing Company
Onggowaluyo.2001.Biologi.UMM Press : Malang.

Rapley, R. (2005), Medical Biomedical Handbook, New Jersey: Humana Press
Soemiaji.1986.Biologi.Bandung:Erlangga.
Suriawirnia, U. 1995.Pengantar Biologi Umum. Angkasa, Bandung.

Volk & Wheeler. 1993.Mikrobiologi dasar . Penerbit Erlangga, Jakarta.

Waluyo, L. 2005.Mikrobiologi Umum. UMM Press:Malang.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar